Pages

pendapatan nasional

Pendapatan Nasional Sejarah Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tuesday, 26 February 2008

Stop Muji Ekspor !

Barangkali kini saatnya bagi pemerintah untuk berhenti memuji ekspor. Faktanya selama 3 tahun terakhir, pertumbuhan ekspor semakin mengkhawatirkan karena terus mengalami penurunan. Tahun 2008, ekspor malah akan menghadapi tantangan lebih berat lagi karena ekonomi dunia yang diperkirakan melemah.

Stop muji ekspor! Lebih baik pikirkan solusi agar ekspor tidak semakin melambat.

Tahun 2007: Rakyat Indonesia Makan Lebih Banyak

Konsumsi makanan biasanya hanya tumbuh sekitar 2% per tahun, sedikit lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan penduduk. Namun tahun 2007 rupanya menjadi pengecualian. Konsumsi makanan tumbuh lebih dari 4%. Tahun lalu, rakyat Indonesia ternyata makan lebih banyak dari biasanya.


Tuesday, 18 December 2007

Politik Angka

Politik adalah melebih-lebihkan. Jika tidak yah, mengurang-ngurangkan. Ketika salah satu tokoh politik berkampanye misalnya, angka kemiskinan Indonesia dikatakan mencapai 49.5 persen. Memang tidak salah. Hanya saja tokoh tersebut memilih data Bank Dunia, yang kita ketahui memiliki definisi paling ekstrim tentang kemiskinan.

Barangkali itulah yang kemudian membuat gusar Presiden Yudhoyono. Dalam sambutannya pada Peringatan Hari Ibu, Yudhoyono secara tegas menyampaikan angka 49,5 persen tersebut tidak akurat.

Seakan ingin memberikan data yang jujur, Yudhoyono kemudian menyampaikan bahwa dari tahun ke tahun angka kemiskinan menurun. Jika pada 1998 mencapai 24,1 persen, maka pada 2005 telah mencapai 15,9 persen.

Pernyataan Yudhoyono lagi-lagi benar. Tetapi periode yang dipilih bukan selama ia memerintah Indonesia, yang kita tahu pada periode tersebut, angka kemiskinan sebenarnya meningkat.

Melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangkan. Itulah politik.

Tuesday, 14 August 2007

IHSG, berapa support level mu?

Pembekuan dua hedge fund milik Bear Stearns tanggal 1 Agustus lalu adalah awal dari semuanya. Baru kemudian terkuak bahwa banyak hedge fund ternama lain yang juga terkena dampak subprime loan di AS.

Sowood Capital (US), American Home Mortgage( US), BNP Paribas, AXA SA (French), KfW, IKB Deutsche Industrial bank AG (Germany), Basis Capital Fund, Absolut Capital, Fortress Investments (Australia) adalah beberapa di antaranya.

Indeks bursa AS pun goyang, yang diikuti anjloknya bursa saham hampir di seluruh dunia. Tapi anehnya, bursa Jakarta yang emiten-emitennya relatif tidak memiliki exposure terhadap subprime loan di AS justru memimpin koreksi bursa dunia.



Semula dikira hanya dampak temporer, tetapi karena hingga hari ini JSX terus memimpin koreksi, banyak investor yang akhirnya mulai bingung dan bertanya “IHSG, berapa support level mu?"

Thursday, 26 April 2007

Trik Mendandani Angka

Depkeu memprediksi ekonomi kuartal pertama 2007 tumbuh antara 5,7 - 5,9 %. Sri Mulyani pun menyatakan ekonomi on track. Kenapa? Katanya, karena angka tersebut lebih tinggi dibanding angka kuartal pertama 2006 yang hanya 5%.

Perbandingan kuartal yang sama memang merupakan metode yang masuk akal. Biasanya itu dilakukan analis untuk men-adjust siklus musim. Tapi angka pertumbuhan yang dimaksud merupakan angka pertumbuhan YoY, yang sebenarnya telah di-adjust musiman. Jadi, jika dibandingkan kembali, justru akan menjadi redundant dan menyesatkan.

Sebagai bekas analis dan peneliti, Sri Mulyani harusnya sangat paham akan metode ini. Hanya saja kondisi sebenarnya adalah, dengan prediksi 5,7-5,9%, pertumbuhan ekonomi berarti tidak melanjutkan tren meningkat seperti dua kuartal sebelumnya. Jika ini diungkap, tentu akan menurunkan pamor pemerintah, khususnya Sri Mulyani sebagai Menkeu. Dengan alasan itulah, Sri Mulyani akhirnya menggunakan pembanding yang lebih rendah (Q1-2006).

Sebuah trik mendandani angka. Nampaknya Sri Mulyani rajin membaca buku”How to lie with statistics”.

18 ribu pada 2030 = Mengulang Periode Memprihatinkan

25 tahun terakhir, kemajuan yang dicapai Indonesia dari sisi Income per capita cukup memprihatinkan. Paling buruk di antara Malaysia, China, Vietnam, Thailand dan Korea. Pada periode 1980-2005, Indonesia hanya mencatat kenaikan income per capita sekitar 4,5 kali. Padahal Malaysia berlipat sebanyak 4,9 kali. Thailand 6,3 kali. Vietnam 7,2 kali. Korea 8,6 kali. China bahkan mencapai 16,1 kali.

Tentunya, Indonesia menginginkan adanya perbaikan dalam 25 tahun ke depan. Tidak lagi mengulangi pengalaman buruk yang terjadi pada 25 tahun sebelumnya. Nah, kebetulan baru-baru ini, Yayasan Indonesia Forum meluncurkan visi Indonesia 2030. Dalam visi tersebut, Income per capita Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 18 ribu pada 2030.

Pertanyaannya, seandainya visi ini tercapai, apakah Indonesia dapat dikatakan telah lebih baik?

Jika dihitung, angka US$ 18 ribu pada 2030 ternyata hanya sekitar 4,5 kali dari income perkapita tahun 2005 (US$ 4.04 ribu). Dengan kata lain, jika visi tersebut benar terjadi, Indonesia justru mengulang periode memprihatinkan pada 25 tahun sebelumnya.

Tapi anehnya, koq banyak kalangan, bahkan Presiden SBY sendiri menyatakan visi itu terlalu berani ya?

Monday, 23 April 2007

Bukan Target Ambisius

19 tahun dari sekarang, Pemerintah menargetkan angka kemiskinan Indonesia sudah di bawah 5%. Secara statistik, target tersebut setara dengan penurunan rata-rata 0,64% per tahun. Dan.. data historis menunjukkan ini bukan target yang terlalu ambisius.

Antara tahun 2000-2005 saja, Indonesia mencatat penurunan angka kemiskinan rata-rata 0,62% per tahun. Padahal pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan diklaim dalam kondisi yang sangat buruk.

Jika kemudian Kwik Kien Gie sangat skeptis akan tercapainya target tersebut, ini justru patut disyukuri. Harapannya, keragu-raguan Kwik Kien Gie akan mendorong pemerintah untuk mencari formula yang lebih baik untuk menolong si miskin. Tidak lagi hanya dengan membagikan uang seperti program BLT.