Pages

pendapatan nasional

Pendapatan Nasional Sejarah Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Monday, 23 April 2007

Bukan Target Ambisius

19 tahun dari sekarang, Pemerintah menargetkan angka kemiskinan Indonesia sudah di bawah 5%. Secara statistik, target tersebut setara dengan penurunan rata-rata 0,64% per tahun. Dan.. data historis menunjukkan ini bukan target yang terlalu ambisius.

Antara tahun 2000-2005 saja, Indonesia mencatat penurunan angka kemiskinan rata-rata 0,62% per tahun. Padahal pada periode tersebut, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan diklaim dalam kondisi yang sangat buruk.

Jika kemudian Kwik Kien Gie sangat skeptis akan tercapainya target tersebut, ini justru patut disyukuri. Harapannya, keragu-raguan Kwik Kien Gie akan mendorong pemerintah untuk mencari formula yang lebih baik untuk menolong si miskin. Tidak lagi hanya dengan membagikan uang seperti program BLT.

Thursday, 19 April 2007

Beban APBN sesungguhnya

Akan banyak yang tidak suka, jika pemerintah terus menerus meminjam uang ke luar negeri. Bunganya memang rendah. Pinjaman IDA (International Development Asisstance) Bank Dunia, misalnya, hanya dikenakan bunga antara 0 sampai 2 persen.

Yang tidak disukai adalah berbagai prasyarat yang mengharuskan si kreditor terlibat jauh dalam urusan teknis proyek, seperti dalam penunjukkan konsultan, dsbnya. Entah ini hal yang wajar atau tidak. Tapi yang jelas, penolakan terjadi karena proyek utang luar negeri dinilai kerap memberi keuntungan besar bagi si pemberi utang.

Gelombang penolakan tersebut rupanya dimanfaatkan betul oleh Meneg PPN/KaBappenas Paskah Suzetta untuk berkampanye. Hari ini, dalam konferensi pers usai Spring Meeting dengan World Bank dan IMF, Paskah menyatakan utang luar negeri Indonesia 2007 berkurang 16 triliun rupiah.

Menyejukkan memang. Tapi dari sisi beban negara, bukankah utang dalam negeri juga ikut ditanggung APBN? Jawabnya ya, dan nilainya terus meningkat. Penurunan stok utang luar negeri justru bukan hal aneh karena pemerintah beberapa tahun terakhir telah merubah kebiasaan meminjam dari luar negeri menjadi ke dalam negeri.


Tabel Perubahan Stok Utang

Pinjaman luar negeri memang turun, tetapi penurunannya masih lebih rendah dari tambahan pinjaman dari dalam negeri. Konsekuensinya, beban pembayaran bunga di APBN terus meningkat. Ini lah yang tidak diungkap.

Singkat kata, kampanye penurunan stok utang luar negeri memang sangat baik secara politis, tetapi beban APBN yang sesungguhnya adalah total utang dalam dan luar negeri. Utang tetap saja utang. Dari mana pun sumbernya, APBN tetap harus menanggung bunganya.

Mimpi Indonesia yang dibenci China

Pertumbuhan ekonomi sepuluh persen? Bagi Indonesia, itu hanya ada dalam cerita mimpi. Untuk mencapai tujuh persen saja, pemerintah katanya harus bekerja EXTRA keras dan mencari berbagai langkah terobosan. Apalagi sepuluh persen?

Tapi bagi China, pertumbuhan 10% merupakan hal biasa, seperti halnya yang terjadi empat tahun terakhir. Malahan belakangan ini, pertumbuhan sebesar itu menjadi sesuatu yang tidak disukai. Konon katanya ekonomi China bisa overheating.

Saking tidak sukanya, ketika BPS China siang tadi mengumumkan ekonomi triwulan pertama tumbuh 11,1%, kepala BPS China menyertakan kata ”turut prihatin”. Rupanya, pertumbuhan di atas 10 persen di sana diperlakukan layaknya bencana.

Huhhh… andai 11,1% itu terjadi di Indonesia…

Hanya Rajin Ngutang

Kegiatan utang mengutang Indonesia dari hasil menulis obligasi negara telah mencapai 46 triliun rupiah sepanjang tahun ini. Angka tersebut rupanya sudah melebihi separo dari kebutuhan setahun. Padahal tahun ini baru menginjak bulan keempat.

Entah untuk apa uang tersebut. Yang dibelajakan pun nyatanya juga tidak banyak. Dari catatan Dirjen Perbendaharaan Negara, uang pemerintah yang dibelanjakan dalam tiga bulan pertama 2007 baru terealisasi 15%. Lebih rendah dari target 25%.

Sepertinya pemerintah terlalu rajin ngutang, tapi agak malas membelanjakannya.

Sunday, 15 April 2007

Ekonomi 2007: Investasi cerah?

Gambaran awalnya menunjukkan demikian. BKPM mencatat pada triwulan pertama tahun ini, PMA naik 15% dan PMDN naik 61%. Memang masih kurang meyakinkan seperti kata Faisal Basri berikut:

...Berdasarkan daftar proyek berskala besar yang disetujui, ternyata hanya dua proyek PMA yang benar-benar baru, yaitu industri pengilangan minyak dan gas senilai 4,4 miliar dollar AS di kota Batam dan industri komponen bahan bangunan senilai 25 juta dollar AS di kabupaten Halmehera Utara. Proyek pertama tergolong sangat besar tapi sejauh ini tak terdengar gemanya dalam pemberitaan. Adapun PMA lainnya kebanyakan proyek alih status dan hampir seluruhnya perkebunan kelapa sawit...


Gambaran yang lebih meyakinkan adalah data yang dikeluarkan Asosiasi Semen Indonesia. Konsumsi semen nasional pada kuartal pertama 2007 naik 8,8%, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2006 yang hanya mencapai 1,6%.

Data konsumsi semen malah lebih menggambarkan pergerakan investasi, karena porsi terbesar (70%) investasi bruto dalam GDP adalah investasi bangunan, bukan investasi bisnis seperti yang dicatat BKPM. Jadi, cukup cerah!

Monday, 5 February 2007

Kredit Bank: Tetap Tumbuh Tapi Melambat

Awalnya banyak kalangan khawatir, dampak buruk kenaikan harga BBM akan menekan permintaan kredit perbankan 2006. Namun data sampai November tahun lalu, posisi kredit ternyata masih tumbuh 12,1 persen. Memang melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya dan dibawah target BI 15-18 persen. Namun bagaimanapun, capaian tersebut tidaklah terlalu buruk.


Kredit Sektor Pertambangan dan Pertanian sangat menolong capaian tersebut, yang masing-masing tumbuh 29% dan 22%. Sementara posisi kredit sektor manufaktur hanya tumbuh rendah 5%.

Thursday, 1 February 2007

US$ 100 miliar akhirnya tembus juga

Ekspor 2006 akhirnya benar-benar menembus 100 miliar dolar. Meski pertumbuhannya sedikit lebih rendah dari tahun 2005.
Akankah ekspor tahun ini sebaik tahun 2006? Perkembangan harga komoditi nampaknya masih akan banyak menentukannya.